30 Nov 2010

2nd Chance

Taun ini kembali kuikuti seleksi CPNSD di Sumbar. dan daerah yang enjadi pilahanku adalah kab. Solok.

meski terjadi beberapa kekeliruan dan kesalahan menjawab soal, tetapi aku masih berharap bisa ulus pada seleksi pertama ini.

i hope this is will be my best December...

12 Mar 2010

Borrrrrrrrrrrrrrrrrrring..........................

In present, going to school is a boring thing.
The school is different, it's not like couple years ago when i study there. Being teacher is harder.... SO many bad student here. Nobody can change it. There's no comitment here. and so much apologize is available for a blame student, so less punisment. I hate that fact......

But in my class i'll do my best....

13 Jan 2010

tahun berubah, harapan perubahanpun berpendar

Akhir 2009 kekurangberuntungan menghinggapi.. Saya tidak lolos menjadi CPNS daerah tanah Datar pada tes ke 2. Sungguh ironis, dengan soal yang bisa dikatakan mudah saya tidak lolos.... Tak seorangpunmengerti betapa berartinya tes CPNS bwt saya, dengan ketidak lolosan itu saya merasa sebagai manusia yg bodoh... Saya bukan orang yg supel dan mudah bergaul dengan orang lain, bukan juda orang yg religius, satu2nya yg menjadi kelebihan saya selama ini adalah kecerdasan yg lumayan. Tapi ternyata itru tidak cukup untuk lolos tes CPNS. Saya beruisaha untuk menghapus "negative thinking" yg sering ternngiang di telinga. Tes ini tidak "fair"...


Tapi mau bilang apa juga ga bakal merubah keadaan... semoga tahun 2010 ini saya bisa lolos. Saya akan coba dibeberapa daerah....

wish me luck..

30 Nov 2009

Musibah Di Idul Adha

Hari jum'at yang lalu tepatnya pada tanggal 27 November 2009 hari raya Idul Adha 1430 disambut seperti biasa. Tak se meriah Idul Fitri memang, tapi prosesi pemotongan hewan kurban cukup jadi perhatian. Disini saya tidak akan bahas hewan kurban tapi membahas hari Idul Adha yg bertepatan dengan hari jum'at.
Di depan rumah saya hari jum'at merupakan hari pasar, Warga sekitar umumnya pedagang yg selalu memanfaatkan satu hari dalam seminggu itu untuk berdagang di dalam pasar. Disini letak masalahnya, anak-anak mereka mulai terabaikan. Pada umumnya orang tua berfikir kalo anak merelka bermain atau jajan di pasar. Apalagi setelah shalat idul adha anak-anak pergi bersama temen2 mereka sekedar memuaskan hasrat masa kecilnya. Namun ada seorang anak tetangga saya yg hingga magrib tak pulang juga. Warga mulai membantu mencari kemana-mana, mulai dari pasar, rumah temennya, sampe mencari ke ladang... Berdasarkan informasi dari beberapa orang, anak itu terakhir terlihat di kawasan kolam ikan ( ukurannya lumayan besar 100 m x 400 m) yang baru beberapa bulan selesai di keruk. Dan berbondong2 masyarakat mencari kesana.
Kira2 pukul 9 di pinggir kolam ditemukan sendal anak itu, dan mulailah kecemasan warga memuncak, puluhan orang memasuki kolam kalo2 anak itu tercebur. Lewat dari jam 10 malam seorang famili menemukan adak terbenam didalam kolam. Tak ayal lagi semua orang menangis terisak, apa lagi orang tuanya. Seorang anak lelaki yag duduk dibangku kelas 1 SD berumur 7 tahun telah menjadi korban proyek pengerukan yg tak sempurna, orang tua yg tak terlalu memeprhatikan anaknya dan kebiasaan anak yg suka bermain tidak pada tempatnya.


Saya merasa kehilangan seorang anak supel yang rajin membantu orang tua dan selalu terlihat riang... Innalilahi wa innailaihi rojiun. Semoga arwahnya tenang disurga dan orang tuanya diberikan ketabahan.. Amien....

31 Okt 2009

Akhirnya....


Setelah hampir 2 tahun berkutat dengan tugas akhir, finally selesai juga.
Saat prosesi wisuda dipenghujung mata, musibah datang melanda. Gempa bumi mengguncang kotaku, Padang tercinta, tak terbayangkan kehancuran yg disebabkannya, Padang kini hampir seperti kota yg baru dirintis, kebanyakan fasilitas umum, infrastruktur dan gedung-gedung tinggi rusak berat, termasuk kampus saya. Walaupun demikian acara wisuda tetap dilaksanakan secara sederhana. Dan alhamdulilah, saya sudah selesai dari perkuliahan dan siap untuk berpetualang mencari pekerjaan yang layak...
Semoga pekerjaan bisa saya dapatkan dalam waktu dekat Amien....

24 Jun 2009

To Kill A Mockingbird (Buku)



2 Bulan yang lalu saya membeli buku "To Kill A Mockingbird" di salah satu toko buku ternama Indonesia. Buku itu bercerita tentang kehidupan Scout dan Jem Finch yang berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam. Saat Atticus Finch membela seseorang yang diangap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia. Dan bahwa keadilan tidak selalu bisa ditegakkan.

To Kill a Mockingbird karya Harper Lee memenangi Pulitzer pada 1961(yup, ini buku lama yang terus dicetak ulang), dan buku ini juga terdaftar pada Guiness book record 2007 karena terjual lebih dari 30 juta kopi.


Banyak sekali kalimat berisi pencerahan yang saya temukan dibuku ini (padahal saya belum selesai membacanya) diantaranya:

"Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya...hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya."

"sebelum aku mampu hidup bersama orang lain, aku harus hidup dengan diriku sendiri. Satu hal yang tidak bisa tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang"

18 Apr 2009

bingung****????!!!!@@###^^^^

Saya lagi kebingungan sendiri... sebulan yang lalu laptop saya kena virus yang bikin semua master proghram ga bisa di pake lagi.
akhirnya saya instal ulang..
dan kemaren kebetulan saya minjam DVD film baru. dan saat saya putar pake DVD player, ternyata "subtitle" nya ga aktif. Udah otak atik sana sini tetep ga bisa aktif, trus di putar pake windows media playes ( yang biasa ma yang classic) trus sama nero player dan lain2nya tapi tetep ga ada pilihan "subtitle nya..

udah capek banget dan berfuikir bahwa DVD yang itu emang ga tersedia subtitlenya n terpaksa nonton film tanpa transletan.. walau secara garis besar ngerti, tapi tetep ja ada dialog2 yang missing.. salah2 ntar malah jadi miss understanding...
besoknya iseng2 nyoba di laptop temen, eh ternyata ada pilihan subtitlenya.

saya jadi bingung, dimana letak kesalahannya???
temen2 ada yang tau ga???

19 Mar 2009

Salesman Teledor


Seorang salesman alat penghisap debu menuju ke sebuah rumah. Diketuknya pintu depan. Sebelum sempat nyonya rumah itu berkata sepatah katapun, ia menghamburkan segala macam kotoran ke karpet ruang tamu.
“Nyonya,” katanya, “saya yakin akan kemampuan mesin ini. Karpet ini akan bersih kembali dalam sekejap. Jika nanti masih ada kotoran yang tertinggal, saya bersedia memakannya.”
“Kalau begitu,” kata nyonya itu,”mulailah makan. kami belum punya listrik.”

2nd fr other's

Awal Maret ini aku dapat melangkah maju
Meski cuma terhitung satu
Tapi langkah ini mampu memunculkan semangat baru
Demi penyelesaian Tugas Akhir (TA) ku

Setelah berbagai halangan silih berganti datang, bagai menyelesaikan benang yang teramat kusut hanya dengan jemari, tak ada hasilnya. Hingga aku harus membuat keputusan yang membuat orang tuaku bertanya berkali-kali:
“Apa kamu yakin????”
Yah., aku yakin untuk membuat ulang TA ini, meski itu berarti menambah waktu dan dana tentunya. Tapi aku sudah tak sanggup lagi untuk menganalisanya, “human error” bukan, “system error” juga bukan, secara logika jika bukan kedua hal itu, sudah pasti “random error”. Kesalahan yang tak pernah diketahui keberadaannya.
Secara kasarnya TA yang aku buat terdiri dari dua blok dasar (Blok 1 dan Blok 2) dan kedua blok tersebut dikoneksikan oleh dua ponsel. Awal bulan ini Blok 1 sudah berjalan sebagaimana mestinya. Sekarang dalam penyelesaian Blok 2, semoga selesai dalam waktu 3 minggu ke depan.
Dengan demikian masih tersisa 3 minggu dalam bulan April untuk memfokuskan fikiran membuat Blok1 dan Blok 2 saling terkoneksi. Semua hal yang kita lakukan pasti mempunyai resiko. Jika TA ini tidak clear awal Mei maka aku kembali melewatkan satu periode wisuda lagi.

Aku harus terus berusaha untuk wisuda,
sesuatu telah menungguku di luar sana.

17 Feb 2009

Minuman Penambah ion


Pernahkah anda membaca artikel tentang plesetan sebuah produk minuman beken asal Jepang????
saya tergelitik juga untuk memuatnya di blog ini.

Sepertinya fenomena seorang anak kecil dengan batu ajaibnya (konon ceritanya begitu) makin mempopulerkan Jombang-Jawa Timur. Setelah tahun lalu daerah itu memunculkan seorang "artis" yang melejit bak meteor (Riyan sang penjagal) ternyata ada juniornya juga ( tentunya Ponari ).

Ga tanggung-tanggung anak ini langsung dikenal diseluruh Indonesia, dan malah sekarang namanya mampu menggeser nama produk minuman yang semula bermerk "POCARI SWEAT" menjadi "PONARI SWEAT".

"PONARI SWEAT" minuman pengobat segala macam penyakit, terbuat dari bahan-bahan alami dengan sedikit campuran unsur petir.
harga terjangkau.....
untuk saat ini baru tersedia di Jombang jawa timur.

untuk pemesanan hubungi (0809100200300)
apakah anda berminat?

26 Jan 2009

Surat Sayang...



Pernahkah anda menerima surat yang sampai saat ini masih dapat anda ingat tiap rangkaian katanya??? ”Surat” yang tidak dilengkapi tanggal dan tanda tangan, apalagi alamat ini adalah satu yang takkan pernah saya lupakan…
Terimakasih kepada siapapun yang telah mengirimkannya…
Dan hari ini saya ingin membagi isi surat itu kepada saudara2 dimanapun Anda berada.

“Surat Sayang Dari ALLAH SWT “

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun
hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur
kepada KU atas sesuatu hal yang indah
yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ......

Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk
mempersiapkan diri untuk pergi bekerja .......
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti
dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .........

Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi
selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.
Kemudian AKU Melihat engkau menggeerakkan kakimu.
AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU
tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman
untuk mendengarkan kabar terbaru.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja
dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu
AKU berfikir engkau terlalu sibuk
mengucapkan sesuatu ke padaKU.

Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk
berbicara kepadaKU,
itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut
namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan,
tetapi engkau tidak melakukannya .......
masih ada waktu yang tersisa dan
AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU,
meskipun saat engkau pulang kerumah
kelihatannya seakan-akan banyak hal
yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV,
engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya,
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar
saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu
tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU .........

Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKU kau sebut.
Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.

AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar
terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu,
Setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a,
pikiran atau syukur dari hatimu.

Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan
kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari
ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU
........Tapi yang KU tunggu ........ tak kunjung tiba ...... tak juga kau menyapaKU.

Subuh ........ Dzuhur ....... Ashyar ..........
Magrib ......... Isya dan Subuh kembali,
kau masih mengacuhkan AKU .....
tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a,
dan tak ada rasa,
tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU..........

Apa salahKU padamu ...... wahai UmmatKU?????
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan, harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang KU rahmatkan,
apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKU............????!!!!!!!

Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapa KU, memohon
perlindungan KU, bersujud menghadap KU ......
Yang selalu menyertaimu setiap saat ........



Satu hal yang ingin saya tanyakan pada Anda, Bagaimana Anda bisa membalas ”surat” seperti ini?, Tolong bantu saya…, setiap kalimatnya selalu bergaung ditelinga, hingga bulir bening berkali-kali mengalir begitu saja…

6 Jan 2009

TAHUN BARU




Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan dan tahun terus berputar, bumi seakan tidak tahu dan tidak mau tahu. Hanya manusia yang terkadang berubah dalam merespon pergantian tahun. Ada yang penuh sujud syukur ketika memasuki detik-detik pergantian tahun, ada yang penuh suka cita dan berpesta, ada pula yang terlelap dalam buaian kenikmatan semu mumpung malam tahun baru. Dipihak lain begitu banyak orang yang duduk dalam keheningan untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Yang Mahakuasa dalam memasuki tahun depan.

Fenomena yang terjadi ketika memasuki perpindahan tahun diantaranya terompet yang siap untuk ditiup dengan sorak sorai dan gemuruh, selang beberapa jam kemudian sampah-sampah hasil pesta berserakan tampak di belantara lapangan dan jalan-jalan. Fenomena lain ketika pergantian tahun adalah ada begitu banyak manusia yang perutnya seperti tertiup terompet karena kelaparan dan kemiskinan. Ketika yang berpesta terlelap, yang miskin mulai mengais-ngais sisa kenikmatan malam tahun baru. Ini merupakan fenomena yang sangat kontradiktif di Indonesia saat ini.

Itulah sebabnya bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya (memperbaiki cara berfikir, bersikap dan tingkah lakunya dalam bergaul dengan orang lain kearah yang lebih baik tentunya).

>>>>> SELAMAT TAHUN BARU 2009 <<<<<

Semoga ditahun ini kita menemukan jati diri yang sesungguhnya tentang makna kehidupan (apa itu hidup, untuk apa kita hidup, bagaimana sebaiknya mengisi kehidupan dan apa yang mesti disiapkan untuk masa setelah berakhirnya kehidupan).

Tetralogi Laskar Pelangi




Semua pasti sudah tak asing lagi dengan kata “laskar pelangi”. Baik Novel ataupun filmnya menyita perhatian masyarakat khususnya yang berkecimpung dalam bidang pendidikan.

Beberapa orang pernah menanyakan pada saya, mana yang lebih menarik Novel atau filmnya... dan untuk pertama kalinya saya bingung untuk menjawabnya dengan tegas, saya hanya bisa mengatakan ”Novelnya bagus, menceritakan tentang realita pendidikan pada suatu sekolah di Belitong, filmnya juga bagus meski ada penambahan dan pengurangan karakter, tapi kelucuannya itu benar-benar tak terlupakan. Sama-sama baguslah....” Teman itu hanya tersenyum mendengar jawaban saya kali ini.... (Maaf, bukannya menjelek-jelekan film yang diambil dari novel lainnya, tapi dulu saat teman-teman membahas soal novel serta film Ayat-ayat Cinta dan Dealova saya dengan tegas mengatakan bahwa bukunya lebih menarik daripada filmnya).
O ya, sekarang kan udah edar novel ke empat dari laskar pelangi yang berjudul ”Maryamah karpov”, saya udah beli dan udah selesai bacanya.


Salut!!!!! Itulah yang pertama terucap dari bibir ini saat selesai ngebacanya. Dua jempol buat Andrea Hirata (empat deh... sama jempol kaki sekalian.....). Cara dia memaparkan cerita, kalimat demi kalimat, mozaik demi mozaik semuanya membuat saya tak bisa melepaskan buku itu sebelum selesai, kecuali untuk mandi, shalat, makan dan tidur (ga mungkin barengan sama baca kan....).

Sedikit saya kasih bocoran buat yang belum baca, ”Maryamah karpov” dimulai dengan mozaik ”Dibungkus Tilam, Di Atas Nampan Pualam” dan berakhir dengan mozaik ”Komidi Putar”. Didalamnya terdapat cerita tentang masa akhir kuliah Ikal di Sorbonne, perjalanan pulang kampung, menjalani hidup dikampung sebagai pengangguran, kerja semberawutan demi mengumpulkan uang untuk suatu perjalanan panjang (yang memakan hampir separuh dari buku dengan 503 halaman itu), yaitu perjalanan mencari A Ling, Akhirnya mereka bertemu juga, meski tak bisa bersatu. Pada novel ini anggota laskar pelangi berkumpul lagi lo, termasuk Lintang....


Nah.... bagi yang udah baca semua novel Andrea Hirata ini (yang belum semuanya juga boleh jawab kok.. ), saya mau ngajuin beberapa pertanyaan.
Jawab lewat coment ya...

1. Mana yang lebih menarik film atau novel Laskar pelangi?
2. Dari Tertralogi Laskar Pelangi ini, novel mana yang paling anda sukai serta alasannya? (kalau mau dikasih nomor urut juga boleh)...

17 Des 2008

>>>>>>>mutiara kata<<<<<<<<<<


"Dengarkan lah apa yg dikatakan musuhmu.....
biasanya mereka mengatakan hal2 negatif tentang dirimu dengan jujur....

Hati-hati pada sahabatmu....
biasanya mereka tak mengatakan dengan jujur apa kekurangan & hal negatif dalam dirimu...”




“Kesukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup, tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih itu semua”

“Waktu kamu lahir,

kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal,

kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.”

Others


Disini saya ingin berbagi hal tentang kehidupan.

Saya boleh dikatakan sangat berpengalaman dalam perkuliahan, bagaimana tidak, yang lain hanya butuh waktu 3,5 tahun, 4 tahun atau paling lama 4,5 tahun untuk menyelesaikan S1, sementara saya sudah lebih dari 5 tahun masih saja berstatus sebagai mahasiswa. Sejujurnya ini bukan karena kelalaian dalam perkuliahan, melainkan karena ketidak siapan diri, baik dari segi pengetahuan maupun kemampuan untuk menyelesaikan tugas akhir.

Setahun yang lalu saya telah seminar judul dan semua lancar-lancar saja sampai pada pembuatan alat (saya mahasiswa jurusan elektronika dengan konsentrasi elektronika komunikasi), ada saja hambatan yang datang, mulai dari komponen yang susah didapat, komponen dengan kode yang sama tidak berfungsi sebagaimana mestinya (padahal komponen itu ada dalam keadaan baik), ditambah lagi dengan program yang rumitnya minta ampun, itu semua belum termasuk hambatan-hambatan yang tak terduga lainnya.

Sempat down berkali-kali, terutama saat teman seangkatan sudah wisuda, kemudian menyusul sebagian junior, hingga butuh waktu untuk menenangkan fikiran dari kejenuhan yang telah berakumulasi. Kira-kira 2 bulan saya tidak melanjutkan penyelesaian alat, paling cuma pembelajaran secara teoritis saja. Saat ini tugas akhir itu masih dalam proses.

Saya sudah terlalu sering berkeluh kesah. Dulu mungkin keluhan itu merupakan pelepasan emosi, tetapi sekarang lebih kepada keinginan untuk berbagi cerita dan dari itu semua saya dapat mengambil pelajaran bahwa “ setiap individu pasti mempunyai hambatan masing-masing untuk menuju kesuksesannya”. Meski pada masa sekolah dulu mungkin boleh dikatakan juga bahwa saya termasuk salah satu yang tidak bisa diabaikan, saat kuliah-pun hal itu masih berlaku. Hingga hambatan itu datang pada saat pembuatan tugas akhir ( entah ini cobaan atau ujian ). Namun tak kan pernah ada kata sesal terucap dari mulut ini, karena itu tak kan merubah apa-apa. Yang bisa dilakukan sekarang hanya menjalani semua dengan apa adanya serta terus berusaha dan berusaha. Semoga dengan ini semua saya menjadi pribadi yang lebih matang nantinya, baik dari segi pemikiran maupun kemampuan. Amien……………..

Cinta Ibu


Cerpen ini dikirimkan oleh seorang teman ke email saya, tidak tau dia dapat darimana dan maksudnya apa, tapi yang pasti cerpen ini merupakan salah satu yang terbaik yang pernah saya baca. Saya tidak tau apakah salah memuat cerpen se2orang diblog, tapi saya sangat ingin semua membacanya agar dapat mengambil pelajaran yang tersirat didalamnya.

Cinta Ibu

Senin, 11 Pebruari 2008

APAKAH cinta benar-benar ada? Inilah yang sering kutanyakan kepada ibuku, dulu, ketika berbulan-bulan menemaninya di sebuah rumah sakit yang dingin dan bisu.


Dengan senyumnya yang menyejukkan, ibu selalu mengatakan, salah satu karunia Tuhan yang tak bisa dihapuskan oleh siapapun adalah cinta. “Kamu bisa membayangkan, Cah Bagus, seandainya di dunia ini tak ada cinta. Seandainya orang-orang hidup tanpa cinta, semuanya akan menjadi besi, patung, gedung-gedung tua dan kemudian ambruk dimakan waktu. Tetapi cinta tidak. Dia adalah bangunan yang akan terus ada, meski kadang kita selalu meragukan keabadiannya...”

Kini, perjalananku sudah setengah lebih. Subuh-subuh tadi aku berangkat dari Pekanbaru sendirian. Aku sengaja mengambil cuti hari ini. Aku ingin hari ini berada di sana, Tongar, kampung terakhir ibuku di Simpang Empat, Pasaman Barat, Sumatera Barat. Ibu ulang tahun hari ini, dan aku ingin ada di dekatnya. Selalu, setiap ulang tahunnya, aku selalu datang ke Tongar, sejak enam tahun lalu. Beberapa hari sebelumnya, aku sudah mengatakan kepada istriku dan aku berharap dia mau pergi. Tetapi pekerjaan di kantornya tak bisa ditinggalkan, dan Palagan, anakku, juga sedang ujian. “Pergilah, katakan kepada ibu, kami tak bisa datang menemanimu. Tapi, bukankah kalian ingin rendesvouz berdua?” kata istriku sambil mencium tanganku, kemudian pipiku. Setelah itu aku mendekati Palagan yang masih tidur, mencium kedua pipinya.

Kukatakan pada istriku, bahwa ada yang aneh dan tak enak kali ini. Tidak seperti biasanya. Setiap aku akan pergi, yang muncul adalah perasaan sumringah. Selain akan datang di acara ulang tahun ibu, aku juga akan pulang ke kampung tempat aku besar sebelum pergi meninggalkannya karena harus bekerja ke kota lain berpindah-pindah. “Semoga tidak terjadi apa-apa. Hati-hati, kalau hujan dan jalan licin, jangan dipaksakan...” kata istriku lagi. Hari memang hujan ketika aku keluar rumah, dan sepanjang jalan, ingatanku tertuju pada ibu yang memilih hidup sendirian sejak tiba di Tongar hingga akhir hayatnya. Setiap aku bertanya mengapa ibu tidak menikah lagi agar memiliki teman ketika aku pergi kuliah ke Padang dan kemungkinan akan meninggalkannya dalam waktu lama ketika berkerja di kota lain, ibu selalu mengatakan bahwa dia sudah punya janji kepada ayah. “Ayahmu menyuruh Ibu berangkat lebih dulu dengan kapal pertama, dan dia akan menyusul dalam kepulangan selanjutnya. Ibu akan tetap menunggunya di sini...” katanya berkali-kali setiap kutanya.



Dia kemudian bercerita. Pada 4 Januari 1954, rombongan pertama kepulangan dari Suriname diberangkatkan dengan menggunakan kapal sewaan KM Langkuas milik perusahaan pelayaran Belanda, (NV Scheepvaart My Nederland.1) Sebelum naik ke atas kapal itulah untuk terakhir kalinya ibu bisa melihat ayah. “Ibu sedang hamil 8 bulan ketika itu. Karena tidak semua keluarga bisa pulang bersama dan ayahmu tidak mendapatkan tiket, akhirnya Ibu disuruhnya pulang lebih dulu bersama kakek dan nenekmu. Dalam perjalanan setelah meninggalkan Semenanjung Pengharapan, kamu lahir di kapal. Ibu sedih karena ayahmu tidak ada ketika itu, tetapi Ibu yakin, ayahmu pasti akan berangkat dengan rombongan selanjutnya...” Tetapi, setelah sekian tahun, ibu akhirnya sadar, bahwa ayah tidak pernah pulang. Ayah berkirim surat, bahwa memang tidak ada lagi kapal yang pulang ke Indonesia. Untuk pulang sendiri, ongkosnya sangat mahal.

Gaji ayah sebagai tukang pos di Paramaribo tidak akan mencukupi untuk membeli tiket karena harus ke Belanda dulu. Ayah minta maaf dan selalu mengatakan kalau dia sangat mencintai ibu dan meminta agar dikirimkan foto kami berdua kepadanya. Hingga bertahun-tahun kemudian ketika ayah memang tak akan pernah kembali, ibu selalu menyimpan keyakinan bahwa ayah tetap akan kembali menyusul kami. Dan bahkan ketika akhirnya surat-surat ayah tak pernah datang lagi dan bertahun-tahun kemudian tak terdengar kabarnya, ibu juga tetap yakin ayah pasti akan menyusul kami di Tongar. “Kita sebaiknya memang harus melupakan ayah,” kataku kemudian. Aku tak bisa membayangkan seperti apa ayahku, karena dalam surat-surat yang dikirimkan kepada ibu, tak pernah disertai foto dirinya, sementara satu-satunya foto yang disimpan di dompet ibu, sudah sangat lusuh dan gambarnya sudah buram. “Ayahmu adalah kekuatan bagi hidup Ibu,” kata ibu sambil tersenyum dan membelai rambutku. Aku sudah tamat SMA ketika itu, dan akan melanjutkan kuliah di Padang. “Ibu menderita karena selalu mengenang ayah...” ucapku kemudian. Ibu menggeleng, dan di sudut matanya keluar butiran bening. “Ayahmu lelaki yang baik, berpendirian, jujur, bertanggung jawab dan selalu menepati janjinya. Ibu jatuh cinta kepadanya karena itu, bukan karena dia anak orang Jawa terpandang di Paramaribo. Kamu menuruni sifat-sifatnya Cah Bagus,” kata ibu lagi, dan butiran bening itu menetes mengenai lenganku.

“Lalu mengapa ayah membiarkan Ibu yang sedang hamil besar pulang sendiri dan tak berusaha untuk selalu bersama Ibu?” suaraku ikut serak. “Semua orang ingin pulang dalam gelombang pertama ketika itu. Yayasan Tanah Air, yang mengurusi kepulangan kami, akhirnya mengambil keputusan, tidak semua anggota keluarga yang bisa pulang bersamaan. Ada yang bisa pulang bersamaan karena lebih dulu mendaftar, dan ada yang harus pulang terpisah. Ketika itu kami semua yakin, mereka yang ingin pulang pasti bisa pulang karena akan ada kapal lagi untuk gelombang kedua...” “Dan kapal itu tidak pernah ada lagi, Bu?”
Ibu memandangku. “Iya....” katanya. “Dan ayahmu ternyata tidak bisa menyusul kita di sini...” suaranya terdengar lirih dan serak, menahan tangis. “Tapi Ibu selalu yakin, ayahmu pasti akan menyusul kita di sini...” Hampir tengah hari, aku sudah melewati Bukittinggi dan sebentar lagi akan sampai di Danau Maninjau. Kabut tebal menutup Maninjau dari pemandangan Kelok Ampek-ampek2). Air danau yang biasanya tenang, tak terlihat dari atas bukit. Terlihat di setiap kelokan ada rambu-rambu bertuliskan “Hati-hati”, karena di kelokan ini sering terjadi kecelakaan. Setiap akan ke Tongar, aku memilih melewati jalan memotong ini karena setelah Maninjau, akan sampai ke simpang dekat Lubuk Basung dan setelah itu jalan akan lurus sepanjang lebih kurang 70 Km menuju Tongar. Dari Bukittinggi, ada tiga jalan menuju Tongar. Selain lewat Maninjau, ada jalan lewat Simpang Lubuk Alung melewati Padangpanjang dan Sicincin yang nantinya akan sampai ke simpang Lubuk Basung. Jalan lainnya adalah dari Bukittinggi menuju Lubuk Sikaping, dan baru menuju Simpang Empat. Kedua jalan ini lebih jauh.

Ketika aku tamat SMA dan kemudian melanjutkan kuliah di Padang, berat rasanya meninggalkan ibu sendirian. Namun kakek dan nenek serta saudara-saudara ibu meyakinkanku bahwa ibu akan baik-baik saja bersama mereka. Jarak Tongar dengan Padang tidak terlalu jauh, dengan bus sekitar lima jam, dan hampir setiap bulan aku pulang. Ibu sering bercerita, ketika aku kecil dan sekian tahun tak ada tanda-tanda ayah akan menyusul kami, kakek dan nenek selalu mendesak agar ibu menikah lagi karena banyak laki-laki yang menginginkan ibu. Aku tahu, ibu sangat cantik. Bahkan di masa tuanya, garis-garis kecantikannya mengingatkanku pada seorang bintang film yang main di film The House of The Spirits dan Out of Africa, Marryl Streep.

Kata ibu ketika itu, “Mereka tak tahu apa itu cinta dan nikmatnya menyimpan harapan sepanjang hidup. Kalau Ibu mau, Ibu bisa mendapatkan lelaki seperti apapun yang Ibu inginkan. Tetapi lelaki yang selalu Ibu inginkan hanyalah ayahmu. Cah Bagus, jika kamu memiliki cinta untuk seseorang, kejarlah cinta itu dan jangan lepaskan. Kamu akan bahagia bersama cinta itu, meski akhirnya suatu saat kalian akan terpisah...” Aku hanya mengangguk ketika itu dan masih sempat melihat ibu menoleh ke arah lain. Matanya basah.

Ketika aku tamat kuliah dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan pengeboran minyak di Pekanbaru, aku ingin membawa ibu ikut bersamaku. Ketika itu, ada perusahaan perkebunan sawit yang mengincar tanah orang-orang Tongar dan sekitarnya yang akan dijadikan perkebunan dan mereka telah mendapat izin dari pemerintah, hanya saja penduduk Tongar berkeras menolaknya. Aku tidak ingin ibu ikut dalam konflik itu. Namun ibu menolaknya dan mengatakan dia akan tetap di Tongar, dia ingin ketika ayahku datang, dia ada di sana. Hatiku tersayat mendengar itu. Begitu besarnya cinta ibu untuk ayah. Adakah seseorang yang mencintai hingga seperti itu? Namun ketika ibu mulai sakit-sakitan, aku memaksa membawanya ke Pekanbaru meski ibu menolaknya. Aku tahu, aku telah mencabut semua impian dan harapannya ketika akhirnya aku merawatnya di sebuah rumah sakit di Pekanbaru. Aku hanya ingin dekat dengannya. Ibu selalu mengatakan, jika nanti dia meninggal, dia ingin dimakamkan di Tongar, dekat dengan makam kakek dan nenek.

Dan pada sebuah malam, setelah sekitar dua bulan dirawat, ibu mengatakan tiba-tiba sangat rindu kepada ayah. “Ibu tadi malam bertemu ayahmu. Dia mengajak ibu pulang ke Tongar...” Ibu kemudian mengusap rambutku, “Kamu harus ingat, cinta yang membuat orang hidup bahagia atau tidak. Bukan pekerjaan yang mapan, harta yang melimpah dan semua kesenangan. Cinta, Cah Bagus...”

Esoknya, aku mengantarkan jenazah ibu ke Tongar karena ketika dia mengusap rambutku perlahan-lahan, aku tertidur, dan paginya ketika aku bangun, tangan ibu masih di kepalaku. Kulihat matanya terpejam dan bibirnya menyunggingkan senyum. Tetapi aku sadar, ibu telah benar-benar meninggalkanku. Aku sudah sampai Simpang Empat, dan dalam hitungan menit, aku akan sampai ke Tongar. Sejak dari Simpang Lubuk Basung tadi, hujan terus turun meski tidak terlalu deras. Langit menghitam sepanjang perjalanan melewati hamparan kebun sawit yang kini mulai berbuah. Setiap tahun aku pulang melewati jalan ini, memang selalu ada perubahan pada pokok-pokok sawit itu.

Namun, ketika sampai di Simpang Air Gadang menuju Tongar, aku melihat keanehan. Keanehan itu semakin nyata ketika aku benar-benar memasuki Tongar. Terlihat hamparan luas tanah bekas geledoran buldozer dengan sawit-sawit muda dan baru tumbuh, nampaknya belum lama ditanam. Cepat-cepat aku menginjak gas mobil menuju tempat pemakaman umum di mana makam ibu dan keluarga besar kami ada di sana. Dan aku benar-benar tercekat ketika melihat pemandangan itu. Pemakaman umum itu telah rata dengan tanah, dan sawit-sawit muda telah tumbuh di atasnya.

Cepat-cepat aku memutar mobil dan berusaha mencari tahu di mana makam-makam itu dipindahkan. Dan ledakan tangisku tak bisa kucegah ketika Om Maksum, adik ibu, menjelaskan bahwa ketika masyarakat masih berusaha mempertahankan tanah mereka, malam hari beberapa bouldozer telah meratakan kuburan itu dan tak ada yang sempat memindahkan kuburan keluarganya. “Maafkan kami. Kami juga tak sempat memindahkan makam ibu, juga kakek dan nenekmu...”

Hujan semakin deras, dan seperti orang gila, aku berlari ke sana-sini di bekas makam yang kini ditanami sawit itu. Kucabuti sawit-sawit itu dan kulemparkan ke segala arah. Aku menangis sejadi-jadinya dan kemudian terduduk di tanah basah yang telah menjadi lumpur. Haruskah aku menggali seluruh tanah bekas pemakaman ini untuk mencari kerangka ibu? Senja sudah hampir habis, namun hujan tak juga berhenti. Ketika hari benar-benar gelap, Om Maksum dan beberapa orang kampung datang dan bermaksud mengajakku pulang. Namun, dengan suara nyaris tak terdengar, kukatakan pada mereka, “Biarkanlah aku di sini. Aku ingin menemani ibu malam ini. Ibu ulang tahun hari ini...”